Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal: Mengawal Transformasi Pariwisata Halal dan Ekonomi Kreatif Lombok Menuju Panggung Global

Mataram, NTB – Di tengah geliat pemulihan sektor pariwisata pascapandemi, Nusa Tenggara Barat (NTB) menorehkan babak baru dalam peta pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal, provinsi yang dikenal dengan pesona alam Lombok dan Sumbawa ini tidak hanya berambisi menjadi destinasi wisata favorit, melainkan juga laboratorium kebijakan nasional untuk pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan.

Visi besar Iqbal terangkum dalam tiga pilar utama: memperkuat posisi NTB sebagai basis produk halal nasional, mendorong quality tourism yang menghormati budaya dan lingkungan, serta mengintegrasikan pariwisata dengan ekonomi kreatif berbasis pembiayaan inklusif. Langkah-langkah ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi dirancang untuk menjadi role model bagi daerah lain di Indonesia.

Artikel ini menyajikan analisis komprehensif mengenai strategi Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dalam mengembangkan pariwisata halal dan ekonomi kreatif di NTB, berdasarkan fakta, data, dan kutipan langsung dari berbagai sumber resmi.


Visi Pariwisata Halal: Dari Label Menuju Substansi Muslim-Friendly Tourism

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal secara tegas menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program wisata halal yang telah dirintis oleh pendahulunya, Tuan Guru Bajang (TGB). Namun, Iqbal membawa angin segar dengan melakukan reposisi strategis. Ia tidak lagi terpaku pada istilah “pariwisata halal” yang kerap menuai perdebatan, melainkan mengembangkan konsep Muslim-friendly tourism yang lebih inklusif dan universal.

“Kita ingin membangun pariwisata yang berkualitas, bukan sekadar ramai. Pariwisata yang datang menghormati budaya dan alam kita,” ujar Iqbal dalam Forum Economic Talk bertema “Pariwisata Berdaya: Pembiayaan Syariah untuk Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif NTB” di Mataram, Senin (23/2/2026).

Pernyataan ini menandai pergeseran paradigma dari kuantitas menuju kualitas. Iqbal menekankan bahwa wisatawan yang diharapkan datang ke NTB bukanlah mereka yang sekadar mencari hiburan murah, melainkan wisatawan yang memiliki kesadaran tinggi terhadap nilai-nilai lokal, adat istiadat, dan kelestarian lingkungan.

Langkah Konkret Menuju Basis Produk Halal Nasional

Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah Provinsi NTB menargetkan diri sebagai basis produk halal nasional. Iqbal menyadari bahwa potensi pasar produk halal global sangat besar, namun Indonesia masih tertinggal dalam hal sertifikasi.

IndikatorTarget NTBKondisi Saat Ini
Jumlah produk bersertifikat halalMeningkat signifikanMasih sedikit secara nasional
Pendamping sertifikasi halalDiperbanyak secara masifTerbatas
Pasar ekspor produk halalDominasi pasar globalDidominasi negara non-muslim

“Arah kami ingin menjadi basis dari produk halal nasional, paling tidak. Saat ini jumlah sertifikasi halal di Indonesia masih sangat sedikit,” ungkap Iqbal saat ditemui di Kantor Gubernur NTB, Mataram, Selasa (4/3/2025).

Menurut Iqbal, pasar ekspor untuk produk halal memiliki potensi besar dan didominasi oleh negara-negara yang bukan mayoritas Muslim. Saat ini, hanya Turki yang menjadi satu-satunya negara mayoritas Muslim yang mampu mendominasi produk halal di tingkat global.

Untuk mengatasi keterbatasan sertifikasi, Pemerintah Provinsi NTB tengah fokus pada upaya memperbanyak pendamping sertifikasi halal. Iqbal menjelaskan bahwa badan sertifikasi halal tidak dapat secara proaktif melakukan sertifikasi sendiri, sehingga diperlukan pendamping yang akan membantu pelaku usaha dalam proses sertifikasi.

“Nantinya, para pendamping ini akan datang ke restoran dan usaha lainnya untuk mendorong produk halal serta mendampingi proses sertifikasinya. Dengan demikian, biaya sertifikasi halal yang dikeluarkan dapat kembali ke daerah,” jelasnya.


Ekonomi Kreatif: NTB Siap Menjadi Role Model Nasional KUR Berbasis Kekayaan Intelektual

Salah satu gebrakan paling signifikan dari kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal adalah kesepakatan strategis dengan Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, untuk menjadikan NTB sebagai role model nasional dalam implementasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) ekonomi kreatif. Kesepakatan ini mengemuka dalam pertemuan yang berlangsung Selasa, 10 Maret 2026, di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur NTB didampingi oleh Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik NTB, Kepala Dinas Pariwisata NTB, serta Kepala Bappeda NTB. Pertemuan membahas penguatan akses pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif, termasuk rencana kerja sama dengan Bank NTB Syariah sebagai mitra penyaluran pembiayaan di daerah.

Inovasi Pembiayaan Berbasis Kekayaan Intelektual

Salah satu terobosan yang dibahas adalah penguatan skema KUR industri kreatif berbasis kekayaan intelektual (intellectual property). Skema ini memungkinkan pelaku usaha kreatif memperoleh akses pembiayaan melalui aset tidak berwujud seperti merek, hak cipta, karya digital, maupun produk kreatif lainnya yang telah terdaftar.

“Inovasi ini sangat penting karena selama ini pelaku ekonomi kreatif sering kesulitan mengakses perbankan karena tidak memiliki agunan fisik. Dengan skema ini, karya dan ide mereka bisa menjadi jaminan,” ujar seorang sumber di lingkungan Pemprov NTB.

Gubernur Iqbal menegaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan salah satu sektor masa depan yang dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi daerah sekaligus membuka peluang besar bagi generasi muda.

“Jika skema pembiayaan ekonomi kreatif ini dapat berjalan baik di NTB, maka modelnya dapat menjadi contoh nasional. NTB siap menjadi laboratorium kebijakan dalam pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia,” ujar Gubernur Iqbal.

Sektor Unggulan Ekonomi Kreatif NTB

Beberapa sektor ekonomi kreatif yang menjadi prioritas pengembangan di NTB meliputi:

  • Kuliner – Pengembangan produk makanan dan minuman halal berbasis kearifan lokal
  • Kriya (craft) – Kerajinan tangan seperti tenun ikat, anyaman, dan gerabah
  • Fesyen – Desain busana muslim modern dengan sentuhan tradisional
  • Film dan animasi – Konten kreatif yang mempromosikan pariwisata dan budaya NTB
  • Musik dan seni pertunjukan – Festival budaya yang menjadi daya tarik wisata
  • Aplikasi digital – Platform pariwisata dan pemasaran produk lokal

Quality Tourism dan Pariwisata Kolaboratif: Membangun Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal tidak hanya berbicara soal jumlah wisatawan. Ia menegaskan bahwa masa depan NTB bertumpu pada konsep pariwisata berdaya—pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, serta berakar kuat pada identitas lokal.

“Kita ingin membangun pariwisata yang berkualitas, bukan sekadar ramai. Pariwisata yang datang menghormati budaya dan alam kita,” tegas Iqbal dalam Forum Economic Talk di Aula Bank NTB Syariah, Senin (23/2/2026).

Bagi NTB, wisata masa depan bukan sekadar lonjakan statistik kunjungan, tetapi tentang kesadaran—wisatawan yang hadir dengan rasa hormat terhadap adat, budaya, dan kelestarian lingkungan.

Prinsip Pariwisata Kolaboratif

Iqbal juga memperkenalkan konsep pariwisata kolaboratif yang melibatkan semua pihak dalam pembangunan pariwisata. Ia menekankan bahwa pembangunan pariwisata tidak boleh hanya menjadi milik segelintir orang atau kelompok.

“Semua orang harus ikut serta di dalam pembangunan pariwisata itu sendiri… Semua harus punya peran yang sama besarnya, tetapi segmennya yang berbeda-beda,” ujar Iqbal.

Prinsip ini berarti:

  1. Pemerintah sebagai fasilitator dan regulator yang menciptakan iklim kondusif
  2. Swasta sebagai investor dan pengelola destinasi
  3. Masyarakat lokal sebagai tuan rumah dan pelaku usaha
  4. Akademisi sebagai penyedia riset dan inovasi
  5. Media sebagai mitra promosi dan edukasi

Integrasi dengan Energi Terbarukan dan Teknologi Digital

Dalam visi pembangunan jangka panjang, Iqbal juga mendorong integrasi pariwisata dengan sektor-sektor strategis lainnya, seperti teknologi digital dan energi terbarukan. Langkah ini sejalan dengan tren global menuju pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Beberapa inisiatif yang sedang dikembangkan antara lain:

  • Penggunaan energi surya di hotel dan resort di kawasan wisata
  • Sistem manajemen sampah terpadu di destinasi wisata
  • Platform digital untuk pemasaran produk ekonomi kreatif
  • Aplikasi pemandu wisata berbasis kecerdasan buatan

Konektivitas Global: Membuka Rute Penerbangan Langsung Internasional Baru

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan pariwisata NTB adalah keterbatasan akses transportasi udara. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Provinsi NTB berencana membuka rute penerbangan langsung internasional baru yang akan meningkatkan konektivitas global.

Langkah ini dinilai krusial untuk menarik wisatawan mancanegara, terutama dari negara-negara yang memiliki potensi pasar besar seperti Timur Tengah, Asia Timur, dan Australia.

Target Pasar Wisatawan

WilayahPotensi PasarTarget Kunjungan
Timur TengahWisatawan muslim dengan daya beli tinggiMeningkat 30% per tahun
Asia Timur (China, Jepang, Korea)Wisatawan kelas menengah atasMeningkat 25% per tahun
AustraliaWisatawan jarak dekatMeningkat 20% per tahun
EropaWisatawan backpacker dan slow tourismMeningkat 15% per tahun

Dengan adanya rute penerbangan langsung, NTB diharapkan dapat bersaing dengan destinasi-destinasi unggulan lainnya di Asia Tenggara seperti Bali, Phuket, dan Langkawi.


Tantangan dan Harapan: Menuju NTB sebagai Destinasi Kelas Dunia

Meskipun optimisme tinggi menyelimuti rencana pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif NTB, sejumlah tantangan masih harus dihadapi. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Kesiapan SDM – Masih diperlukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif
  2. Infrastruktur pendukung – Kebutuhan akan bandara, pelabuhan, dan jalan yang memadai
  3. Regulasi – Harmonisasi kebijakan antara pusat dan daerah
  4. Persaingan global – NTB harus mampu menawarkan nilai unik yang tidak dimiliki destinasi lain

Namun, dengan komitmen kuat dari Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat, NTB optimis dapat mencapai target-target ambisius tersebut.

“Kita tidak boleh setengah-setengah. NTB memiliki potensi luar biasa, tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan baik. Pariwisata dan ekonomi kreatif adalah masa depan kita,” pungkas Iqbal.

Dengan visi yang jelas, kolaborasi lintas sektor, dan inovasi pembiayaan yang inklusif, NTB di bawah kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal berada di jalur yang tepat untuk menjadi destinasi wisata halal kelas dunia sekaligus pusat ekonomi kreatif nasional. Dunia kini menanti realisasi dari janji-janji besar tersebut.