Hilirisasi Industri dan Capaian Ekspor Produk Olahan Jawa Timur: Strategi Khofifah Indar Parawansa Membawa Produk Lokal ke Panggung Global

SURABAYA — Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan, Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa mencatatkan prestasi gemilang di sektor ekspor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, nilai ekspor provinsi ini pada periode Januari hingga April 2025 mencapai USD 8,31 miliar, meningkat 2,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan hilirisasi industri yang digalakkan Khofifah mulai membuahkan hasil signifikan.

Pencapaian tersebut tidak berhenti di situ. Pada Juli 2025, nilai ekspor Jawa Timur kembali menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan year-on-year (y-on-y) sebesar 20,96 persen, mencapai USD 2,92 miliar. Bahkan, nilai ekspor kumulatif periode Januari hingga Juli 2025 tercatat sebesar USD 16,99 miliar, atau naik 16,69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.

“Alhamdulillah, nilai ekspor Jatim (y-on-y) naik 20,96 persen pada Juli 2025. Ini instrumen yang baik untuk terus memacu pertumbuhan ekonomi Jatim,” kata Khofifah dalam keterangannya, Selasa (2/9/2025).

Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi hilirisasi yang sistematis, pengembangan desa devisa, serta penguatan produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur.

Hilirisasi Industri: Strategi Meningkatkan Nilai Tambah Produk Lokal

Kebijakan hilirisasi industri yang dijalankan Gubernur Khofifah Indar Parawansa berfokus pada transformasi bahan mentah menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi. Strategi ini menjadi kunci utama dalam mendongkrak nilai ekspor Jawa Timur, terutama di sektor makanan dan minuman (mamin) yang selama ini menjadi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi.

“Produk olahan mamin Jawa Timur ini menyumbang PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) tertinggi selama ini. Bahkan di saat pandemi Covid-19 tetap tertinggi,” kata Khofifah.

Beberapa langkah konkret hilirisasi yang dilakukan Pemprov Jatim antara lain:

SektorJenis HilirisasiDampak
PertanianPengolahan jahe gajah menjadi produk eksporNilai tambah hingga 3 kali lipat
PerkebunanGula aren olahan untuk pasar internasionalDaya saing global meningkat
PeternakanPakan ternak berkualitas eksporDiversifikasi produk
Industri kreatifSepatu dan kerajinan tanganPenetrasi pasar Korea Selatan

Data BPS Jawa Timur menunjukkan bahwa ekspor perhiasan dan permata asal Jatim mendominasi komoditas ekspor non migas pada periode Januari hingga Juli 2025 dengan nilai USD 3,76 miliar, mengalami kenaikan 22,72 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, produk mesin dan peralatan mekanis masih mendominasi impor non migas ke Jatim pada periode yang sama.

Desa Devisa: Program Unggulan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

Salah satu inovasi paling menonjol dalam kepemimpinan Khofifah adalah program Desa Devisa. Program ini memberdayakan desa-desa di Jawa Timur untuk menghasilkan produk ekspor berkualitas tinggi yang mampu bersaing di pasar internasional. Hingga November 2025, tercatat sebanyak 293 desa devisa telah terbentuk di Jawa Timur, dengan 72 desa baru yang diluncurkan pada akhir tahun 2025.

“Di akhir tahun 2025, ini kado untuk Jawa Timur, launching 72 Desa Devisa baru, sehingga per November 2025 terdapat 293 desa devisa di Jawa Timur. Ini tentunya juga kado untuk IKM dan Desa Devisa. Terimakasih LPEI yang telah membina dan mendampingi,” ujar Khofifah dalam acara Festival Ekspor Jawa Timur 2025.

Dalam gelaran Festival Ekspor Jawa Timur 2025 yang berlangsung di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), Rabu (26/11), Khofifah melepas enam truk produk ekspor Industri Kecil Menengah (IKM) Desa Devisa dengan nilai total USD 351,6 ribu atau setara Rp5,8 miliar. Produk-produk yang dilepas antara lain:

  • Jahe Gajah senilai USD 53.200 dengan tujuan Bangladesh
  • Keripik Singkong senilai USD 14.661 dengan tujuan Korea Selatan
  • Mie Kering senilai USD 6.686,40 dengan tujuan Belanda (Netherlands)
  • Kerupuk senilai USD 200.000 dengan tujuan India
  • Sepatu senilai USD 37.060 dengan tujuan Korea Selatan
  • Pakan Ternak senilai USD 40.000 dengan tujuan Australia

“Alhamdulillah hari ini kita melepas enam truk produk ekspor desa devisa ke enam negara. Semoga ini jadi pelecut bagi kita semua untuk terus meningkatkan produk IKM Desa Devisa supaya tumbuh dan berkembang lebih besar lagi,” kata Khofifah.

Capaian Ekspor Produk Olahan Makanan dan Minuman

Sektor makanan dan minuman (mamin) menjadi andalan utama ekspor Jawa Timur. Produk olahan mamin tidak hanya mampu bertahan di masa pandemi Covid-19, tetapi juga terus menunjukkan pertumbuhan positif hingga tahun 2025. Beberapa produk unggulan yang berhasil menembus pasar internasional antara lain:

ProdukNegara TujuanNilai Ekspor
Jahe GajahBangladeshUSD 53.200
Keripik SingkongKorea SelatanUSD 14.661
Mie KeringBelandaUSD 6.686,40
KerupukIndiaUSD 200.000
Gula ArenJepang, BelandaBagian dari paket ekspor USD 1,46 juta

Pada kesempatan terpisah, Khofifah juga melepas ekspor produk senilai USD 1,46 juta ke empat negara, yaitu Jepang, Belanda, Chile, dan Korea Selatan. Langkah ini menunjukkan diversifikasi pasar yang semakin luas bagi produk-produk Jawa Timur.

Pengamat Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya), Prita Ayu Kusumawardhany, mengungkapkan bahwa peningkatan ekspor Jawa Timur merupakan buah kerja nyata Khofifah. Menurutnya, Khofifah piawai menaikkan pamor produk lokal agar bisa bersaing dengan produk luar.

“Peningkatan ekspor Jatim adalah sinyal positif bahwa produk lokal semakin kompetitif di pasar global,” kata Prita.

Dampak Positif terhadap Neraca Perdagangan Jawa Timur

Keberhasilan hilirisasi dan peningkatan ekspor berdampak langsung pada perbaikan neraca perdagangan Jawa Timur. Data BPS Jawa Timur menunjukkan bahwa nilai arus impor barang dari luar negeri berhasil ditekan menjadi 2,52 miliar dollar Amerika pada Juli 2025, atau turun 7,74 persen dibanding Juli 2024.

“Nilai ekspor kumulatif periode Januari hingga Juli 2025 (c-to-c) juga naik menjadi 16,99 miliar dollar Amerika atau 16,69 persen, dibanding periode yang sama pada 2024,” ungkap Gubernur Khofifah.

Pada sisi impor, nilai impor kumulatif periode Januari hingga Juli 2025 juga turun menjadi 16,74 miliar Dollar Amerika atau sebesar 3,26 persen dibanding periode yang sama 2024. Hal ini menunjukkan bahwa Jawa Timur tidak hanya mampu meningkatkan ekspor, tetapi juga berhasil menekan ketergantungan terhadap barang impor.

Beberapa faktor yang mendukung perbaikan neraca perdagangan ini antara lain:

  • Penguatan industri pengolahan dalam negeri yang mampu mensubstitusi barang impor
  • Diversifikasi produk ekspor yang tidak hanya bergantung pada komoditas mentah
  • Peningkatan kualitas dan standar produk yang sesuai dengan permintaan pasar global
  • Dukungan infrastruktur seperti pelabuhan dan logistik yang semakin baik

Tantangan dan Strategi Ke Depan

Meskipun mencatatkan berbagai capaian positif, Gubernur Khofifah Indar Parawansa tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih harus dihadapi. Pengamat ekonomi Prita Ayu Kusumawardhany memberikan catatan bahwa masih ada tantangan di depan yang perlu diantisipasi.

“Namun, masih ada tantangan di depan yaitu ketimpangan sektor dan perlunya inovasi berkelanjutan,” tuturnya.

Beberapa tantangan utama yang dihadapi Jawa Timur ke depan meliputi:

  1. Ketimpangan sektor antara industri besar dan IKM yang perlu diatasi melalui pendampingan dan akses permodalan
  2. Inovasi berkelanjutan untuk menjaga daya saing produk di pasar global yang semakin kompetitif
  3. Fluktuasi harga komoditas global yang dapat mempengaruhi nilai ekspor
  4. Keterbatasan infrastruktur di beberapa daerah penghasil produk ekspor

Menghadapi tantangan tersebut, Pemprov Jawa Timur telah menyiapkan sejumlah strategi, antara lain:

StrategiImplementasi
Penguatan ekosistem IKMPendampingan teknis dan akses pembiayaan melalui LPEI
Inovasi produkRiset dan pengembangan produk olahan baru
Perluasan pasarPartisipasi dalam pameran internasional dan misi dagang
DigitalisasiPlatform e-commerce untuk ekspor produk IKM

Khofifah menegaskan komitmennya untuk terus mendorong hilirisasi dan peningkatan ekspor. “Ini instrumen yang baik untuk terus memacu pertumbuhan ekonomi Jatim,” ujarnya.

Dengan capaian yang telah diraih dan strategi yang terencana, Jawa Timur di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa optimis dapat terus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional melalui hilirisasi industri dan ekspor produk olahan yang berkualitas.