Investasi Sumut Tembus Rp58,5 Triliun di 2025, Bobby Nasution Targetkan Rp100 Triliun pada 2029
Medan, 4 Maret 2026 – Provinsi Sumatera Utara mencatatkan lonjakan signifikan dalam realisasi investasi selama tiga tahun terakhir. Di bawah kepemimpinan Gubernur Bobby Nasution, angka investasi terus menunjukkan tren positif yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di wilayah tersebut.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumut, realisasi investasi pada tahun 2025 mencapai Rp58,5 triliun, melampaui target yang ditetapkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar Rp53,67 triliun. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp48,2 triliun dan tahun 2023 sebesar Rp39 triliun.
“Realisasi investasi ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Sumut semakin kuat. Kami tidak hanya berhenti di sini, tetapi menargetkan Rp100 triliun hingga tahun 2029 sebagai kontribusi terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen,” ujar Gubernur Bobby Nasution dalam konferensi pers di kantor gubernur, Selasa, 4 Maret 2026.
Pertumbuhan Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja
Kenaikan investasi di Sumut tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja. Data dari DPMPTSP Sumut menunjukkan bahwa pada tahun 2023, investasi sebesar Rp39 triliun berhasil menyerap 76.230 tenaga kerja. Meskipun angka investasi naik menjadi Rp48,2 triliun pada tahun 2024, penyerapan tenaga kerja justru menurun menjadi 46.232 orang. Namun, pada tahun 2025, dengan realisasi investasi Rp58,5 triliun, penyerapan tenaga kerja kembali meningkat menjadi 60.133 orang.
| Tahun | Realisasi Investasi (Rp Triliun) | Target BKPM (Rp Triliun) | Penyerapan Tenaga Kerja |
|---|---|---|---|
| 2023 | 39,0 | - | 76.230 |
| 2024 | 48,2 | - | 46.232 |
| 2025 | 58,5 | 53,67 | 60.133 |
Koordinator Penanaman Modal DPMPTSP Sumut, Damar Wulan, menjelaskan bahwa fluktuasi penyerapan tenaga kerja dipengaruhi oleh sektor investasi yang dominan pada masing-masing tahun. “Pada tahun 2023, banyak investasi di sektor padat karya seperti perkebunan dan manufaktur. Sementara tahun 2024, investasi lebih banyak di sektor infrastruktur dan energi yang cenderung padat modal. Tahun 2025, keseimbangan mulai terlihat dengan masuknya investasi di kawasan industri baru,” jelas Damar Wulan.
Kawasan Ekonomi Khusus Seimangke Jadi Primadona
Salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan investasi di Sumut adalah keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Seimangke yang terletak di Kabupaten Simalungun. Kawasan ini menjadi penyumbang realisasi investasi terbesar di provinsi tersebut, mengungguli kota-kota besar seperti Medan dan Deliserdang.
“KEK Seimangke menjadi magnet bagi investor asing dan domestik. Infrastruktur yang lengkap, kemudahan perizinan, dan insentif fiskal menjadi daya tarik utama,” ujar Damar Wulan.
Berikut adalah lima daerah penyumbang realisasi investasi terbesar di Sumut pada tahun 2025:
- Kabupaten Simalungun – Didominasi investasi di KEK Seimangke (sektor industri pengolahan dan logistik)
- Kota Medan – Sektor perdagangan, jasa, dan properti
- Kabupaten Deliserdang – Sektor manufaktur dan kawasan industri
- Kabupaten Tapanuli Selatan – Sektor pertambangan dan energi
- Kabupaten Langkat – Sektor perkebunan dan agribisnis
“Negara dengan realisasi investasi terbesar di Sumut saat ini adalah Singapura, yang berkontribusi signifikan di sektor industri pengolahan dan infrastruktur,” tambah Damar Wulan.
Target Rp100 Triliun: Strategi dan Tantangan
Gubernur Bobby Nasution menetapkan target ambisius sebesar Rp100 triliun pada tahun 2029. Target ini sejalan dengan visi pemerintah pusat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen di tahun yang sama. Untuk mencapai target tersebut, Pemprov Sumut telah menyusun sejumlah strategi prioritas.
“Kami fokus pada tiga hal utama: percepatan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS), pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan tol dan pelabuhan, serta promosi investasi yang lebih agresif ke pasar global,” ujar Bobby Nasution.
Pemerintah provinsi juga berencana mengembangkan dua kawasan industri baru di kawasan pantai timur Sumut, tepatnya di Kabupaten Batubara dan Kabupaten Asahan. Kawasan ini akan difokuskan pada sektor hilirisasi kelapa sawit dan industri kimia.
“Kami juga akan memperkuat kerja sama dengan investor Singapura, Malaysia, dan China yang sudah menunjukkan minat besar terhadap potensi energi terbarukan di Sumut,” tambah Bobby.
Namun, target ini tidak tanpa tantangan. Beberapa hambatan yang diidentifikasi antara lain:
- Keterbatasan infrastruktur listrik di beberapa daerah terpencil
- Regulasi lahan yang masih tumpang tindih antara pemerintah pusat dan daerah
- Fluktuasi harga komoditas global yang mempengaruhi sektor perkebunan dan pertambangan
- Kesiapan tenaga kerja lokal yang masih perlu ditingkatkan melalui program vokasi
“Kami optimistis target ini tercapai karena tren investasi terus meningkat. Yang terpenting adalah menjaga stabilitas politik dan keamanan, serta memastikan kepastian hukum bagi investor,” tegas Bobby.
Dampak Ekonomi dan Harapan Masyarakat
Lonjakan investasi di Sumut telah memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi Sumut pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 5,8 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di kisaran 5,2 persen. Sektor industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi menjadi motor utama pertumbuhan.
“Investasi ini tidak hanya meningkatkan PDB, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, terutama bagi lulusan SMK dan perguruan tinggi,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumut, Ahmad Fauzi.
Namun, masyarakat juga berharap agar investasi yang masuk benar-benar berdampak pada kesejahteraan rakyat kecil. Beberapa organisasi masyarakat sipil menyoroti pentingnya perlindungan lingkungan dan hak-hak buruh dalam setiap proyek investasi.
“Kami mendukung investasi, tetapi harus ada pengawasan ketat agar tidak merusak lingkungan dan mengeksploitasi tenaga kerja. Kami ingin investasi yang berkelanjutan dan berkeadilan,” ujar Koordinator Aliansi Masyarakat Sipil Sumut, Rina Simatupang.
Pemprov Sumut berkomitmen untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam setiap proyek investasi. “Kami akan memastikan bahwa setiap investasi yang masuk mematuhi standar lingkungan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” janji Bobby Nasution.
Prospek Investasi Sumut ke Depan
Dengan target Rp100 triliun pada tahun 2029, Sumatera Utara diproyeksikan menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan investasi tercepat di Indonesia. Potensi sektor unggulan meliputi:
- Hilirisasi kelapa sawit – Sumut adalah salah satu produsen CPO terbesar di Indonesia
- Energi terbarukan – Potensi panas bumi dan tenaga surya di kawasan Danau Toba dan sekitarnya
- Pariwisata – Pengembangan Danau Toba sebagai destinasi super prioritas nasional
- Industri digital – Pertumbuhan startup dan pusat data di kawasan Medan dan Deliserdang
“Kami yakin Sumut bisa menjadi gerbang investasi di kawasan barat Indonesia. Dengan infrastruktur yang terus diperbaiki dan iklim investasi yang kondusif, target Rp100 triliun bukanlah hal yang mustahil,” pungkas Bobby Nasution.
Pemprov Sumut juga berencana menggelar Sumut Investment Summit pada kuartal III tahun 2026 untuk menarik lebih banyak investor asing, terutama dari kawasan Asia Timur dan Timur Tengah. Acara ini diharapkan menjadi ajang promosi potensi investasi Sumut secara lebih masif dan terstruktur.