Transformasi Digital UMKM dan Program Jateng Tanpa Kemiskinan: Strategi Gubernur Ahmad Luthfi Menuju Jawa Tengah Berdikari
SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, menegaskan komitmennya untuk menjadikan pengentasan kemiskinan sebagai prioritas utama dalam kepemimpinannya. Dengan angka kemiskinan yang masih berada di 9,39 persen pada tahun 2025, Luthfi mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin), untuk bersama-sama “mengeroyok” masalah kemiskinan secara holistik.
Dalam berbagai kesempatan, Luthfi menekankan bahwa penanganan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia mendorong pendekatan multidimensi yang mencakup perbaikan rumah tidak layak huni, layanan kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi melalui transformasi digital Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Program andalannya, “Jateng Tanpa Kemiskinan,” menjadi payung besar dari berbagai inisiatif yang saling terintegrasi.
Langkah ini sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, termasuk hilirisasi pertanian dan reforma agraria. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Luthfi menegaskan kesiapan Jawa Tengah untuk menyelaraskan langkah dengan pusat.
Kolaborasi Lintas Sektor: Mengajak Kadin dan Seluruh Pemangku Kepentingan
Gubernur Ahmad Luthfi secara terbuka mengajak Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah untuk tampil di garda terdepan dalam memerangi kemiskinan. Ajakan ini disampaikan dalam acara silaturahmi Kadin Jawa Tengah di Hotel Patra Semarang, Kamis (16/4/2026).
“Kadin kami minta untuk tampil di depan. Memerangi kemiskinan itu tidak bisa hanya sandang, pangan, papan. Ada kesehatan, ada pendidikan. Kita harus keroyok bersama,” kata Luthfi dalam keterangan tertulis yang dikutip dari Kompas.com.
Luthfi menekankan bahwa penanganan kemiskinan selama ini sering kali bersifat parsial dan tidak menyentuh akar masalah. Ia menginginkan pendekatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi, di mana setiap sektor saling mendukung.
“Rumah kita perbaiki, perut kita isi, kesehatannya kita tangani, anaknya kita sekolahkan. Semua harus jalan bareng,” ungkapnya.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penurunan angka kemiskinan ekstrem yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Provinsi Jawa Tengah. Dengan melibatkan dunia usaha, diharapkan program-program pemberdayaan ekonomi dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Poin-Poin Kerja Sama Lintas Sektor:
- Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH): Pemprov Jateng pada tahun 2025 telah memperbaiki sekitar 17.000 unit rumah tidak layak huni.
- Layanan Kesehatan: Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang langsung turun ke desa-desa untuk menjangkau masyarakat yang belum pernah bertemu dokter spesialis.
- Pendidikan: Intervensi pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin agar putus sekolah dapat ditekan.
- Pemberdayaan Ekonomi: Meningkatkan kelas UMKM melalui pelatihan, akses permodalan, dan digitalisasi.
Transformasi Digital UMKM: Rumah Kreatif di Setiap Kecamatan
Salah satu pilar utama dalam strategi pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah adalah transformasi digital UMKM. Gubernur Luthfi berkomitmen untuk meningkatkan kelas UMKM dengan mendorong adopsi teknologi digital dan memperluas akses pasar.
Untuk mewujudkan hal ini, Pemprov Jateng akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk membentuk Rumah Kreatif UMKM di tingkat kecamatan. Fasilitas ini akan menjadi pusat pelatihan, pendampingan, dan pemasaran produk UMKM secara digital.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi Jawa Tengah. Kita harus naikkan kelas mereka agar mampu bersaing di pasar nasional dan global,” ujar Luthfi dalam berbagai kesempatan.
Target dan Capaian Transformasi Digital UMKM:
| Indikator | Target/Capaian |
|---|---|
| Angka kemiskinan (2025) | 9,39% (turun) |
| Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) (2025) | 4,32% (menurun) |
| Realisasi investasi (2025) | Rp88,8 triliun |
| Perbaikan RTLH (2025) | 17.000 unit |
| Pembentukan Rumah Kreatif UMKM | Di setiap kecamatan (dalam proses) |
Program ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, di mana UMKM tidak hanya menjadi penyedia lapangan kerja, tetapi juga menjadi motor penggerak utama dalam mengurangi kesenjangan ekonomi.
Program Jateng Tanpa Kemiskinan: Pendekatan Holistik dan Terukur
Program “Jateng Tanpa Kemiskinan” tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga menyentuh sektor-sektor fundamental lainnya. Gubernur Luthfi menegaskan bahwa kemiskinan adalah masalah multidimensi yang memerlukan solusi menyeluruh.
Komponen Utama Program Jateng Tanpa Kemiskinan:
- Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH): Pada tahun 2025, Pemprov Jateng telah memperbaiki sekitar 17.000 unit RTLH. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat miskin.
- Layanan Dokter Spesialis Keliling (Speling): Program ini menjawab keluhan masyarakat desa yang sulit mengakses layanan dokter spesialis. “Masyarakat desa itu banyak yang belum pernah ketemu dokter spesialis. Maka para dokter spesialis keliling ke desa-desa,” ujar Luthfi.
- Bantuan Pendidikan: Pemerintah memberikan beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk mencegah putus sekolah.
- Pemberdayaan Ekonomi: Melalui pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan pemasaran digital bagi UMKM dan kelompok usaha bersama.
Dengan pendekatan ini, diharapkan tidak hanya angka kemiskinan yang turun, tetapi juga kualitas hidup masyarakat Jawa Tengah secara keseluruhan meningkat.
Target Menuju Lumbung Pangan Nasional dan Hilirisasi Pertanian
Selain fokus pada pengentasan kemiskinan, Gubernur Ahmad Luthfi juga menargetkan Jawa Tengah menjadi lumbung pangan nasional. Hal ini sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pada hilirisasi pertanian dan reforma agraria.
Untuk mencapai target tersebut, Pemprov Jateng akan mendorong modernisasi sektor pertanian, termasuk penggunaan teknologi digital dalam proses produksi dan distribusi. Hilirisasi pertanian juga menjadi fokus utama, di mana hasil panen tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah.
“Dengan hilirisasi, petani kita tidak lagi menjual gabah, tetapi beras kemasan atau bahkan produk olahan lainnya. Ini akan meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan,” jelas Luthfi.
Langkah Menuju Lumbung Pangan Nasional:
- Reforma Agraria: Pemerataan akses lahan bagi petani kecil dan masyarakat miskin.
- Modernisasi Pertanian: Penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) dan teknologi digital.
- Hilirisasi: Pembangunan industri pengolahan hasil pertanian di daerah sentra produksi.
- Pemasaran Digital: Memanfaatkan platform digital untuk memperluas akses pasar petani.
Dengan strategi ini, diharapkan sektor pertanian tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga menjadi sumber pendapatan utama bagi masyarakat pedesaan.
Masa Depan Jawa Tengah: Optimisme di Tengah Tantangan
Meskipun berbagai capaian positif telah diraih, Gubernur Ahmad Luthfi menyadari bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Angka kemiskinan 9,39 persen dan tingkat pengangguran terbuka 4,32 persen pada tahun 2025 menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Namun, dengan realisasi investasi yang mencapai Rp88,8 triliun pada tahun 2025, serta komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan, Luthfi optimistis bahwa target “Jateng Tanpa Kemiskinan” dapat tercapai.
“Kita harus keroyok bersama. Tidak bisa sendiri-sendiri. Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus bersatu padu,” tegas Luthfi.
Dengan transformasi digital UMKM, program perbaikan rumah layak huni, layanan kesehatan keliling, dan hilirisasi pertanian, Jawa Tengah berada di jalur yang tepat menuju kemandirian ekonomi dan kesejahteraan yang merata. Masa depan yang lebih cerah bagi seluruh masyarakat Jawa Tengah bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah target yang sedang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.